MENGENAL KONSTRUKSI PISTON

Piston engine biasanya merupakan cetakan dari alumunium. Namun demikian piston alumunium dapat ditemukan pada turbocharged, fuel inject, mesin-mesin diesel atau engine – engine yang pistonnya bekerja keras.

Karena alumunium sangat ringan dan relative kuat, maka ia merupakan material yang sangat bagus untuk piston engine. Saat engine running dengan kecepatan tinggi, piston harus tahan terhadap beban yang besar. Piston dapat berakselerasi dari nol sampai 100 km/h dan kembali ke nol dalam travel / gerakan sekitar 100 mm. Piston yang berat dapat merusak connecting rod. Piston yang lemah dapat hancur dengan beban ini.

Desain piston kuatnya harus maksimum dan ringan. Gambar 6-6 menampilkan bagian dari piston engine. Perhatikan bagaimana piston diperkuat pada stress point. Bagian atas piston terekspose pada pembakaran dan panas yang hebat. Ia dapat mencapai temperatur operasi setinggi 350°C.                                                               

Ada  beberapa metode desain yang digunakan, dapat dipercaya dan kerja piston yang halus.

DIMENSI ATAU UKURAN PISTON

  1. DIAMETER PISTON (jarak yang diukur melintasi sisi-sisi piston).
  2. DIAMETER LUBANG PIN PISTON (jarak yang diukur melintasi bagian dalam lubang pin piston).
  3. LEBAR ALUR RING (jarak diukur dari bagian atas ke bawah alur ring).
  4. KEDALAMAN ALUR RING (jarak diukur dari area ring ke belakang alur ring).
  5. SKIRT LENGTH (distance from bottom of skirt to centreline of piston pin hole). ,
  6. JARAK KOMPRESI (jarak diukur dari pusat lubang pin piston ke bagian atas piston). Karena anda akan mempelajari bagaimana ukuran-ukuran ini mempengaruhi fungsi – fungsi piston dalam silinder. Banyak juga hal penting saat bekerja pada sebuah engine.

Cam ground piston

Cam ground piston dibuat agak tidak bulat saat dilihat dari atas. Piston adalah ratusan millimeter lebih besar dari diameter tegak lurus pada pusat pin piston.

Cam grinding dilakukan untuk mengimbangi tingkat perbedaan perluasan piston (pembesaran) akibat perbedaan ketebalan. Saat piston memanas oleh pembakaran, ketebalan disekitar boss pin piston menyebabkan piston melebar melebihi garis parallel dengan piston pin. Cam ground atau piston bentuk oval kemudian menjadi BULAT SAAT PANAS. Lihat gambar 6-8.

Dengan cam grinding, piston yang dingin akan memiliki jarak piston-kesilinder yang tepat. Piston yang tidak melebar TIDAK akan slap atau terhantam, gagal kesamping dan mengenai atau terbentur dalam silinder karena terlalu banyak jarak. Namun demikian, cam ground piston tidak akan terlalu rapat dalam silinder saat dipanaskan pada suhu kerja/operasi penuh.

Piston taper

Seperti cam grinding, piston taper biasanya digunakan untuk menjaga jarak piston-ke-silinder tepat. Bagian atas piston dibuat agak kecil daripada bagaian bawahnya, lihat gambar 6-9.

Karena piston head (mahkota) menjadi lebih panas daripada skirt dan lebih meluas/lebar, piston taper membuat piston hampir sama ukurannya dengan bagian atas dan bawah saat beroperasi.

Piston shape

Piston shape umumnya merujuk pada bentuk mahkota atau kepala piston. Biasanya, piston head dibentuk agar pas dan bekerja sesuai bentuk chamber pembakaran silinder head. Lihat gambar 6-10.

Head pada bagian atas piston hampir rata dan sejajar dengan permukaan atas silinder block. Piston yang bagian atasnya rata biasa digunakan dengan sebuah silinder head tipe wedge atau pancake. Lihat gambar 6-11.

Domed piston memiliki kepala yang melengkung keatas. Tipe ini biasanya digunakan dengan sebauh silinder head hemi-type (hemispherical). Piston head harus diperbesar untuk mengisi atau memasukkan domed combustion chamber (chamber pembakaran) dan menghasilkan tekanan kompresi yang memadai/cukup.

Valve relief merupakan lekukan kecil baik yang cetakan / berbentuk cast atau dibuat dengan mesin dalam piston head. Mereka memberikan jarak ample piston-ke-valve. Tanpa valve relief, valve head dapat mengenai/menghantam piston. Valve relief terlihat dalam gambar 6-11.

Slipper skirt piston

Slipper skirt piston dihasilkan saat bagian dari piston skirt dibawah piston pin ends yang lepas, seperti dalam gambar 6-11. Slipper skirt memberikan jarak antara piston skirt dan crankshaft counterweight. Slipper skirt piston dapat meluncur kebawah silinder tanpa mengenai / kontak dengan crankshaft.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: